PERSIAPAN KULIAH OFFLINE


Desas-desus kuliah hybrid atau pelaksanaan luring dan daring secara bersamaan sudah sejak akhir 2020 muncul dan menimbulkan keraguan dan dilema bagi mahasiswa. Sebenarnya dengan hybrid  akan memudahkan perkuliahan tetap berjalan di tengah pandemi, tetapi pelaksanaannya adalah dengan memilih jadwal manakah yang bisa dilaksanakan luring atau daring. Namun, civitas sepertinya ‘maju mundur’ untuk mempertahankan pelaksanaan perkuliahan ini. Hingga bertahan di tahun 2021, perkuliahan secara daring terasa sudah lebih nyaman ketimbang harus segera diadakan offline/luring atau perkuliahan tatap muka secara menyeluruh. Civitas kemudian mewacanakan perkuliahan offline secara total di awal semester ganjil di tahun 2021. Akibat dari itu, melalui cybercampus mahasiswa diminta persetujuan orang tua/wali untuk memperbolehkan mengikuti perkuliahan tatap muka (PTM) beserta surat vaksinasi jika sudah melakukannya. Sehingga, meski ragu akan dilakukan, PTM pasti akan tetap dilakukan. Pelaksanaan ini semakin yakin ketika Kementerian Pendidikan mulai mewajibkan sekolah-sekolah melakukan tatap muka walaupun dilakukan tidak full time.

Mulanya, perkuliahan hybrid tetap dilaksanakan sebagai bahan uji coba dan diadakan di Semester genap tahun 2021. Beberapa mata kuliah IIP pula dilaksanakan secara luring dengan menyeleksi mahasiswa yang dapat hadir di tempat. Misalnya seperti Sistem Data Perpustakaan dan Pengantar Ilmu Informasi Perpustakaan. Mata kuliah ini sebagian besar berisi mahasiswa baru. Dari hasil uji coba hybrid ini beberapa mahasiswa yang merasakan tatap muka mendapatkan manfaat dari sisi baiknya, di mana mereka yang sebelumnya tidak pernah bertemu dosen bagi mahasiswa baru, bisa merasakannya selayaknya kuliah normal. Namun, sisi buruknya, mahasiswa terpilih/memilih tidak tatap muka tetap merasakan kuliah online di mana kesempatan mereka jauh lebih sedikit dibanding yang hadir di tempat.

Buat yang hybrid itu bagi gua seperti langkah percobaan bagi dosen untuk menghadapi kegiatan belajar mengajar offline, jadi walaupun diterapkan di beberapa mata kuliah saja itu sudah bangus banget, karena bisa beradaptasi lebih cepat tentang bagaimana kuliah offline setelah sekian lama kita online.” (Faisal –mahasiswa IIP angkatan 2019, asal Jakarta)

“Menurutku dengan perkuliahan hybrid ini masih belum maksimal, dikarenakan fasilitas IT yang ada masih belum mencukupi kebutuhan perkuliahan. Sebagai contoh interaksi yang terjadi antara mahasiswa yang offline dan online tidak sama. Masih perlu adanya kajian ulang terkait pembelajaran hybrid supaya tercapai tujuan awal yang diinginkan.” (Ihza –mahasiswa IIP angkatan 2018, asal Ngawi)

“Untuk perkuliahan hybrid sudah sih dilaksanakan, seperti matkul Dasar Organisasi Informasi. Saya masih belum bisa mengikuti kelas offline karena perjalanan cukup jauh dari rumah dan saya juga belum menemukan tempat penginapan seperti kos untuk ditempati. Perasaan saya juga inginnya mengikuti kuliah offline secara langsung begitu. Karena kan, saya bisa meet langsung sama teman-teman terus bisa ketemu sama dosennya langsung, bisa sharing-sharing juga.” (Nabila –mahasiswa IIP angkatan 2021, asal Gresik)

Di angkatan 2020 kemarin sudah ada satu matkul yang hybrid, Sistem Data Perpustakaan, yang boleh hadir itu ada sekitar 20 orang dari total 100 mahasiswa SDP. Kalau saya sendiri kemairn belum bisa hadir di kampus karena kuota sudah dipenuhi oleh teman-teman dari Surabaya. Rasanya hybrid ini menurut saya jauh lebih efektif daripada offline, jadi adanya interaksi antara dosen yang mengajar dengan mahasiswa yang hadir jauh lebih banyak, sehingga kami yang online merasa cukup bisa lebih memahami materi yang diberikan.” (Dela –mahasiswa IIP angkatan 2020, asal Solo)

“Kalau menurut saya hybrid sudah layak dilakukan mengingat pemerintah berusaha mencari titik tengah antara keberlangsungan pendidikan di era pandemi.”  (Eric –mahasiswa IIP angkatan 2019, asal Nganjuk)

Tanggapanku tetang offline di semester genap nanti, sampai sekarang belum mikirin sih nanti bener offline atau nggak. Memang ya ada wacana pasti muncul setiap pergantian semeter. Biasanya ada rumor-rumor seperti ada pergantian ke offline. Makin kenceng ketika liburan semester muncul SK kuliah daring. Berkaca dari tiga semester terakhir, aku ngerasa belum mikir banget sih ada kuliah hybrid.  Belum ngerasa hybrid banget. Apalagi sekarang ada pandemi varian Omicron.” (Stefanus –mahasiswa IIP angkatan 2019, asal Bali)

Setelah hybrid berhasil diuji cobakan, seraya menunggu seluruh mahasiswa telah mendapatkan vaksin, terbit keputusan rektor bahwa akan dilaksanakan PTM di semester genap 2022. Hadirnya keputusan ini pula memberikan ketentuan-ketentuan seperti pelaksanaan ujian, dan kapasitas kelas saat PTM.

Diambil dari sudut pandang mahasiswa, pelaksanaan PTM membuat dilema. Satu sisi, untuk mahasiswa tingkat akhir memang menginginkan PTM segera dilakukan, tetapi di satu sisi untuk mahasiswa pertengahan belum siap sepenuhnya menghadapi PTM. Untuk mahasiswa permulaan atau baru, diharapkan dapat mengikuti PTM terutama bagi angkatan 2020 yang sejak awal tidak merasakan langsung perkuliahan di awal tahun kuliah. Seperti beberapa jawaban yang diberikan oleh beberapa mahasiswa di IIP, PTM ini dinilai akan menjadi perkuliahan pertama yang mungkin mengubah sedikit kebiasaan lama sebelum PTM, menjadi lebih kondisional. Bagi mahasiswa, persiapannya pun tidak semudah dari yang sebelumnya. Hal ini karena transisi online menuju offline dihadapkan perbedaan tujuan dan kondisi masing-masing.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINGKATAN UNIVERSITAS di INDONESIA